mizcawaii: cantik itu indah

ana here

hi ! nama aku rosliana rusli tapi orang panggil aku cik na , ana , @ ros hahaha banyak sangat nama samaran aku kan. I <3 MY BELOG .. yeayy !!! aku suka membaca , menulis , berbelog & etc *______^"

KliK - KliK

SauDara-SaudaRi

Top 10 Members

22 April 2011

"TA'ARUF SYAR'I, SOLUSI PENGGANTI PACARAN....^_^" (Bag. II)

Allah Subhanahu wa
Ta ’ala memerintahkan
mereka berinteraksi sesuai
tuntutan hajat dari balik
hijab dan tidak boleh
masuk menemui mereka
secara langsung. Asy-
Syaikh Ibnu Baz
rahimahullah berkata:
“ Maka tidak dibenarkan
seseorang mengatakan
bahwa lebih bersih dan
lebih suci bagi para
shahabat dan istri-istri
Rasulullah Shallallahu
‘ alaihi wa sallam,
sedangkan bagi generasi-
generasi setelahnya
tidaklah demikian. Tidak
diragukan lagi bahwa
generasi-generasi setelah
shahabat justru lebih
butuh terhadap hijab
dibandingkan para
shahabat, karena
perbedaan yang sangat
jauh antara mereka dalam
hal kekuatan iman dan
ilmu. Juga karena
persaksian Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa
sallam terhadap para
shahabat, baik lelaki
maupun wanita, termasuk
istri-istri Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa
sallam sendiri bahwa
mereka adalah generasi
terbaik setelah para nabi
dan rasul, sebagaimana
diriwayatkan dalam Shahih
Al-Bukhari dan Shahih
Muslim. Demikian pula,
dalil-dalil Al-Qur`an dan As-
Sunnah menunjukkan
berlakunya suatu hukum
secara umum meliputi
seluruh umat dan tidak
boleh mengkhususkannya
untuk pihak tertentu saja
tanpa dalil. ” (Lihat
Fatawa An-Nazhar, hal.
11-10).
Pada saat yang sama,
ikhtilath itu sendiri menjadi
sebab yang
menjerumuskan mereka
untuk berpacaran,
sebagaimana fakta yang
kita saksikan berupa akibat
ikhtilath yang terjadi di
sekolah, instansi-instansi
pemerintah dan swasta,
atau tempat-tempat yang
lainnya. Wa ilallahil
musytaka (Dan hanya
kepada Allah kita
mengadu).
2]. Khalwat, yaitu
berduaannya lelaki dan
wanita tanpa mahram.
Padahal Rasululllah
Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
“Hati-hatilah kalian dari
masuk menemui wanita.”
Seorang lelaki dari
kalangan Anshar berkata:
“ Bagaimana pendapatmu
dengan kerabat suami? ”
Maka Rasulullah Shallallahu
‘ alaihi wa sallam
bersabda: “Mereka adalah
kebinasaan.” (Muttafaq
‘alaih, dari ‘Uqbah bin
‘Amir radhiyallahu
‘anhu)
Rasulullah Shallallahu
‘ alaihi wa sallam juga
bersabda:
“ Jangan sekali-kali salah
seorang kalian berkhalwat
dengan wanita, kecuali
bersama
mahram. ” (Muttafaq
‘alaih, dari Ibnu ‘Abbas
radhiyallahu ‘anhuma)Hal
itu karena tidaklah terjadi
khalwat kecuali setan
bersama keduanya sebagai
pihak ketiga, sebagaimana
dalam hadits Jabir bin
Abdillah radhiyallahu
‘anhuma:
“Barangsiapa beriman
kepada Allah dan hari akhir
maka jangan sekali-kali dia
berkhalwat dengan
seorang wanita tanpa
disertai mahramnya,
karena setan akan
menyertai
keduanya.” (HR. Ahmad).
3]. Berbagai bentuk
perzinaan anggota tubuh
yang disebutkan oleh
Rasulullah Shallallahu
‘ alaihi wa sallam dalam
hadits Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu:
“Telah ditulis bagi setiap
bani Adam bagiannya dari
zina, pasti dia akan
melakukannya, kedua mata
zinanya adalah
memandang, kedua telinga
zinanya adalah mendengar,
lidah (lisan) zinanya adalah
berbicara, tangan zinanya
adalah memegang, kaki
zinanya adalah melangkah,
sementara qalbu
berkeinginan dan
berangan-angan, maka
kemaluanlah yang
membenarkan
(merealisasikan) hal itu
atau mendustakannya ”.
(HR. Al-Bukhari (5889) dari
Ibnu Abbas, dan Muslim
(2657) dari Abu Hurairah).
Hadits ini menunjukkan
bahwa memandang wanita
yang tidak halal untuk
dipandang meskipun tanpa
syahwat adalah zina mata .
Mendengar ucapan wanita
(selain istri) dalam bentuk
menikmati adalah zina
telinga. Berbicara dengan
wanita (selain istrinya)
dalam bentuk menikmati
atau menggoda dan
merayunya adalah zina
lisan. Menyentuh wanita
yang tidak dihalalkan
untuk disentuh baik
dengan memegang atau
yang lainnya adalah zina
tangan. Mengayunkan
langkah menuju wanita
yang menarik hatinya atau
menuju tempat perzinaan
adalah zina kaki. Sementara
kalbu berkeinginan dan
mengangan-angankan
wanita yang memikatnya,
maka itulah zina kalbu.
Kemudian boleh jadi
kemaluannya mengikuti
dengan melakukan
perzinaan yang berarti
kemaluannya telah
membenarkan; atau dia
selamat dari zina kemaluan
yang berarti kemaluannya
telah mendustakan. (Lihat
Syarh Riyadhis Shalihin
karya Asy-Syaikh Ibnu
‘ Utsaimin, pada syarah
hadits no. 16 22).
Padahal Allah Subhanahu
wa Ta ’ala berfirman:
“Dan janganlah kalian
mendekati perbuatan zina,
sesungguhnya itu adalah
perbuatan nista dan
sejelek-jelek jalan. ” (QS.
Al-Isra`: 32).
Rasulullah Shallallahu
‘ alaihi wa sallam juga
bersabda:
“ Demi Allah, sungguh jika
kepala salah seorang dari
kalian ditusuk dengan
jarum dari besi, maka itu
lebih baik dari menyentuh
wanita yang tidak halal
baginya. ” (HR. Ath-
Thabarani dan Al-Baihaqi
dari Ma ’qil bin Yasar
radhiyallahu ‘anhu, dan
dishahihkan oleh Al-Albani
dalam Ash-Shahihah no.
226)
Meskipun sentuhan itu
hanya sebatas berjabat
tangan maka tetap tidak
boleh. Aisyah radhiyallahu
‘ anha berkata:
“Tidak. Demi Allah, tidak
pernah sama sekali tangan
Rasulullah Shallallahu
‘ alaihi wa sallam
menyentuh tangan wanita
(selain mahramnya),
melainkan beliau
membai ’at mereka
dengan ucapan (tanpa
jabat tangan). ” (HR.
Muslim).
Demikian pula dengan
pandangan, Allah
Subhanahu wa Ta ’ala
telah berfirman dalam
surat An-Nur ayat 31-30:
“ Katakan (wahai Nabi)
kepada kaum mukminin,
hendaklah mereka menjaga
pandangan serta kemaluan
mereka (dari halhal yang
diharamkan) –hingga
firman-Nya- Dan katakan
pula kepada kaum
mukminat, hendaklah
mereka menjaga
pandangan serta kemaluan
mereka (dari hal-hal yang
diharamkan)….”
Dalam Shahih Muslim dari
Jabir bin Abdillah
radhiyallahu ‘anhuma, dia
berkata:
“Aku bertanya kepada
Rasulullah Shallallahu
‘ alaihi wa sallam tentang
pandangan yang tiba-tiba
(tanpa sengaja)? Maka
beliau bersabda:
‘ Palingkan
pandanganmu’.”
Adapun suara dan ucapan
wanita, pada asalnya
bukanlah aurat yang
terlarang. Namun tidak
boleh bagi seorang wanita
bersuara dan berbicara
lebih dari tuntutan hajat
(kebutuhan), dan tidak
boleh melembutkan suara.
Demikian juga dengan isi
pembicaraan, tidak boleh
berupa perkara-perkara
yang membangkitkan
syahwat dan mengundang
fitnah. Karena bila
demikian maka suara dan
ucapannya menjadi aurat
dan fitnah yang terlarang.
Allah Subhanahu wa
Ta ’ala berfirman:
“Maka janganlah kalian
(para istri Nabi Shallallahu
‘ alaihi wa sallam)
berbicara dengan suara
yang lembut, sehingga
lelaki yang memiliki
penyakit dalam kalbunya
menjadi tergoda dan
ucapkanlah perkataan
yang ma’ruf
(baik).” (QS. Al-Ahzab: 32)
Adalah para wanita datang
menemui Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan di sekitar beliau
hadir para shahabatnya,
lalu wanita itu berbicara
kepada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa
sallam menyampaikan
kepentingannya dan para
shahabat ikut
mendengarkan. Tapi
mereka tidak berbicara
lebih dari tuntutan hajat
dan tanpa melembutkan
suara.
Dengan demikian jelaslah
bahwa pacaran bukanlah
alternatif yang ditolerir
dalam Islam untuk mencari
dan memilih pasangan
hidup. Menjadi jelas pula
bahwa tidak boleh
mengungkapkan perasaan
sayang atau cinta kepada
calon istri selama belum
resmi menjadi istri. Baik
ungkapan itu secara
langsung atau lewat
telepon, ataupun melalui
surat. Karena saling
mengungkapkan perasaan
cinta dan sayang adalah
hubungan asmara yang
mengandung makna
pacaran yang akan
menyeret ke dalam fitnah.
Demikian pula halnya
berkunjung ke rumah calon
istri atau wanita yang ingin
dilamar dan bergaul
dengannya dalam rangka
saling mengenal karakter
dan sifat masing-masing,
karena perbuatan seperti
ini juga mengandung
makna pacaran yang akan
menyeret ke dalam fitnah.
Wallahul musta ’an (Allah-
lah tempat meminta
pertolongan).
Adapun cara yang
ditunjukkan oleh syariat
untuk mengenal wanita
yang hendak dilamar
adalah dengan mencari
keterangan tentang yang
bersangkutan melalui
seseorang yang
mengenalnya, baik tentang
biografi (riwayat hidup),
karakter, sifat, atau hal
lainnya yang dibutuhkan
untuk diketahui demi
maslahat pernikahan. Bisa
pula dengan cara meminta
keterangan kepada wanita
itu sendiri melalui
perantaraan seseorang
seperti istri teman atau
yang lainnya. Dan pihak
yang dimintai keterangan
berkewajiban untuk
menjawab seobyektif
mungkin, meskipun harus
membuka aib wanita
tersebut karena ini bukan
termasuk dalam kategori
ghibah yang tercela. Hal ini
termasuk dari enam
perkara yang dikecualikan
dari ghibah, meskipun
menyebutkan aib
seseorang. Demikian pula
sebaliknya dengan pihak
wanita yang
berkepentingan untuk
mengenal lelaki yang
berhasrat untuk
meminangnya, dapat
menempuh cara yang
sama.
Dalil yang menunjukkan hal
ini adalah hadits Fathimah
bintu Qais ketika dilamar
oleh Mu ’awiyah bin Abi
Sufyan dan Abu Jahm, lalu
dia minta nasehat kepada
Rasulullah Shallallahu
‘ alaihi wa sallam maka
beliau bersabda:
“ Adapun Abu Jahm, maka
dia adalah lelaki yang tidak
pernah meletakkan
tongkatnya dari
pundaknya . Adapun
Mu ’awiyah, dia adalah
lelaki miskin yang tidak
memiliki harta. Menikahlah
dengan Usamah bin
Zaid. ” (HR. Muslim).
Para Ulama juga
menyatakan bolehnya
berbicara secara langsung
dengan calon istri yang
dilamar sesuai dengan
tuntunan hajat dan
maslahat. Akan tetapi
tentunya tanpa khalwat
dan dari balik hijab. Asy-
Syaikh Ibnu Utsaimin dalam
Asy-Syarhul
Mumti ’ (130-129/5
cetakan Darul Atsar)
berkata: “Bolehnya
berbicara dengan calon
istri yang dilamar wajib
dibatasi dengan syarat
tidak membangkitkan
syahwat atau tanpa
disertai dengan menikmati
percakapan tersebut. Jika
hal itu terjadi maka
hukumnya haram, karena
setiap orang wajib
menghindar dan menjauh
dari fitnah. ”
Perkara ini diistilahkan
dengan Ta ’aruf. Adapun
terkait dengan hal-hal
yang lebih spesifik yaitu
organ tubuh, maka cara
yang diajarkan adalah
dengan melakukan nazhor,
yaitu melihat wanita yang
hendak dilamar. Nazhor
memiliki aturan-aturan dan
persyaratan-persyaratan
yang membutuhkan
pembahasan yang telah
disyariatkan.
Semoga kita bisa tentunya
menjalankan sebagaimana
yang di Syari'atkan dalam
Islam dengan Baik.
Wassalamu'alaikum
Warahmatullahi
Wabaralatuh
Referensi juga:
www.asysyariah.com

No comments:

There was an error in this gadget
Come Come N See. .. .
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masa Berlalu