mizcawaii: cantik itu indah

ana here

hi ! nama aku rosliana rusli tapi orang panggil aku cik na , ana , @ ros hahaha banyak sangat nama samaran aku kan. I <3 MY BELOG .. yeayy !!! aku suka membaca , menulis , berbelog & etc *______^"

KliK - KliK

SauDara-SaudaRi

Top 10 Members

25 February 2011

trend menular dalam pernikahan

Pernikahan merupakan mitsaqan ghalizhan (ikatan perjanjian yang besar dan agung) yang menyatukan dua insan laki-laki dan wanita. Alangkah indahnya sebuah ikatan pernikahan yang dibingkai dengan kepercayaan dan kasih sayang yang didasari ketakwaan kepada Allah. Dimulai dari mencari pasangan hidup. Seringkali orang hanya tertipu dengan penampilan lahiriah dari pasangannya yang dianggap menarik. Standart calon pasangan hidup tidak lagi berdasarkan kualitas agamanya. Bahkan ada diantara mereka yang nekat menikah dengan perbedaan agama. Digambarkan pula betapa indahnya pernikahan yang mereka jalani meskipun berbeda keyakinan, apabila pasangannya merayakan hari besar keagamaan, dengan dalih toleransi maka sang pasangan yang notabennya islam ikut merayakan pula. Padahal sudah jelas hal itu diterangkan .”Barang siapa yang meniru (kebiasaan) suatu kaum maka ia termasuk(golongan) mereka (Al Hadits). Lalu bagaimana status keislamannya yang ikut-ikutan merayakan itu? wallahu’alam.

Dari indahnya ikatan sebuah pernikahan yang digambarkan dengan perbedaan agama, akan timbul anggapan pembolehan karena ada contoh real yang sering mereka saksikan di berbagai media. Dari siapa lagi jika bukan dari para artis idola mereka yang kerap jadi sorotan. Setiap tingkah laku dan gerak-gerik sang idola selalu diperhatikan. Dari yang buruk hingga yang paling buruk. Anehnya masyarakat bukannya menjadikan contoh buruk sebagai pelajaran, malah menganggap media sebagai sarana sosialisasi keburukan yang akan memasyarakat dikehidupan mereka sendiri. Menyedihkan sungguh.

Namun tidak semua yang digambarkan berupa keindahan dalam berumah tangga. Berbagai pertikaian dan konflik yang mereka alami juga menjadi panutan oleh masyarakat. Hingga berujung pada sebuah perceraian. Kata cerai seringkali terbesit dalam benak pasangan muda atau bahkan yang telah menikah lama dengan membuahkan beberapa orang anak. Mengapa semua itu bisa terjadi? Padahal bukan suatu ketidaktahuan bahwa itu adalah hal yang sangat dibenci Allah meskipun dihalalkan(HR. abu Dawud dan Ibnu Majah). Apalagi jika kata-kata cerai keluar dari mulut seorang istri, sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda “Janganlah seorang istri meminta cerai dari suaminya tanpa alasan(sebab yang dibenarkan), niscaya dia tidak akan mencium bau syurga yang baunya dapat dirasakan pada jarak tempuh empat puluh tahun”(HR. Ibnu Majah). Na’udzubillah. Pernikahan yang begitu sakral dianggap sebuah permainan oleh mereka yang entah tidak menyadari atau tidak peduli akan sucinya ikatan itu. Isu-isu perceraian lagi-lagi di pelopori oleh media sebagai konsumsi berita utama masyarakat. Karena terlalu sering disuguhi berita-berita yang kurang baik, akhirnya masyarakat terbiasa dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan mereka sendiri. Seolah-olah yang ereka lihat adalah sumber inspirasi dalam kehidupannya. “Toh, orang lain juga banyak melakukan kawin cerai” mungkin itu yang ada dalam pikiran mereka. Tanpa mempertimbangkan lagi apa yang Allah suka dan tidak suka. Entah tidak tau atau tidak mau tau akan hal itu.

Pernikahan yang berujung perceraian biasanya dilator belakangi oleh beberapa sebab. Diantaranya karena kedua pasangan merasa tidak ada lagi kecocokan antara keduanya. Kenapa sampai hal itu terjadi, bukankah mereka yang mengaku memulai sebuah hubungan dengan istilah pacaran untuk bisa saling mengenal satu sama lain, saat pacaran bertahun-tahun langgeng, setelah menikah satu bulan malah minta cerai. Bahkan ada digambarkan seseorang yang telah kawin cerai berkali kali, sepertinya pernikahan dijadikan ajang coba-coba pasangan yang apabila tidak ada kecocokan lagi maka tinggal diceraikan. Kemudian cari pasangan lagi yang dianggap lebih cocok, entah dalam segi apanya. Kembali pada pemikiran yang salah dalam memulai sebuah hubungan. Sesuatu yang dimulai dengan baik maka akan berakhir dengan baik pula, dan sebaliknya yang terjadi disini adalah ketika mereka memulainya dengan cara yang dilarang oleh Allah yaitu dengan pacaran. ”Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”(Al Israa’ : 32). Kenapa dikatakan mendekati zina? Karena aktifitas yang ada disana sangat dekat sekali bahkan berpeluang zina. Bisa dilihat sendiri dari aktifitas anak muda yang sedang berpacaran. Tidak perlu digambarkan disini karena pembaca sudah bisa melihatnya sendiri dari kenyataan yang ada dimasyarakat. Lagi-lagi hal itu menjadi sebuah kebiasaan dan hal yang lumrah meskipun mereka tau bukan suatu hal yang baik bahkan bertentangan dengan apa yang Allah syariatkan.

Bukan hanya ketidak cocokan yang kerap jadi alasan perceraian, tetapi dipicu oleh kehadiran orang ketiga didalam kehidupan rumah tangga mereka. Kisah perselingkuhan diantara kalangan artis sudah jadi berita saban hari, sehingga yang mendengarpun seolah-olah sudah biasa dengan hal itu. Itulah bahayanya ketika mereka menjadikan sebuah kesalahan menjadi kebiasaan. Selingkuh sekarang jadi trend baru, ketika sang istri sibuk dengan pekerjaannya dan naluri lahiriah tidak tersalurkan, maka selingkuhlah yang jadi penyelesaian. Akhirnya daging busuk yang dikuburpun tercium ke luar permukaan. Sang istri mengetahui perihal perselingkuhan suaminya dan ujung-ujungnya perceraian. Kenapa harus dengan selingkuh? Ketika seorang istri dianggap tidak mampu lagi melayani suaminya, maka suami boleh menikah lagi atau berpoligami. Masalahnya sekarang poligami tidak ladi dipandang sebagai solusi tetapi penilaian lebih kepada kondisi. Memang kenyataannya sangat sedikit digambarkan oleh media khususnya, mereka yang berpoligami hidup rukun. Yang digembar-gemborkan malah kebalikan dari semua itu. Seolah-olah hukum yang telah Allah buat itu akan menyengsarakan kehidupan mereka. Menyedihkan memang pemahaman masyarakat sekarang. Dan masalah terkait adalah sang istri bukannya tidak bisa melayani karena memang tidak bisa, tapi karena memaksakan tidak bisa. Dengan alasan kesibukan kerja dan kegiatan-kegiatan lainnya maka diserahkannlah segala urusan kepada sang pembantu. Kesuksesan dunia menjadi prioritas utama dalam kehidupan, demi mengejar karier yang katanya lagi beradaa dipuncaknya, sementara keluarga ditelantarkan. Padahal ladang amal seorang wanita adalah ketika dia bisa mengabdikan dirinya untuk suami dan keluarganya.

Pertikaian demi pertikaian terjadi, sang suami yang juga bosan dengan kelakuan sang istri ditambah kasus perselingkuhannya yang telah terbongkar tak bisa menahan emosi dan akhirnya pukulan demi pukulan melayang ke tubuh sang istri. Yang lebih dikenal dengan KDRT atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Sang istri yang merasa mendapat perlindungan dari pemerintah langsung melaporkan tindakan suaminya ke aparat kepolisian terdekat, dan sang suami siap-siap dipenjara akibat perbuatannya itu.
Setelah membicarakan panjang lebar tentang pernikahan hingga berujung ke kantor polisi. Lengkaplah sudah berbagai masalah yang dihadapi dalam berumah tangga, membuat yang muda mikir-mikir nikah dan mengambil jalan lain dengan zina.

Kemudahan-kemudahan yang bisa didapat dan fasilitas yang disediakan seolah menyulut keinginan mereka untuk membiasakan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan fitrah mereka sebagai manusia. Dimana peran pemerintah yang katanya mengurusi urusan Rakyat. Sekarang sibuk dengan kenaikan gaji dan jabatannya masing-masing. Pertanyaan terakhir yang kemudian terus membayangi. Kapan semua ini berakhir?

”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”(Al Israa’ : 36)


yang menanti kesempurnaan dalam dien
"NayLa"


No comments:

There was an error in this gadget
Come Come N See. .. .
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masa Berlalu